Riana

Riana

Suasana kelas mulai hening karena terlihat dari pintu ibu guru masuk dengan membawa setumpuk buku, sepertinya buku untuk semester baru. Seluruh siswa dalam kelas segera menuju kursinya masing-masing dan mulai tenang duduk di bangku. Tidak terkecuali Riana yang sedari tadi melamun di kursinya. Ia mengusap sudut matanya yang tadi sempat dipenuhi oleh air mata. Ia menarik nafas panjang yang membuat Dewi, teman sebangkunya, heran.

Dewi pun tidak kuasa menahan rasa penasarannya. Ia menyenggol lengan Riana perlahan, menunggu hingga teman sebangkunya tersebut menoleh, kemudian ia pun bertanya dengan isyarat agar guru tidak mengetahuinya. Riana tersenyum dan malah bertanya kembali padanya. Respon Riana tersebut pastinya agar ia tidak bertanya lebih lanjut lagi. sepanjang pelajaran berlangsung, Dewi seakan tidak menangkap materi yang diberikan guru sedikitpun karena pikirannya sibuk dengan Riana yang sepanjang pagi ini murung dan tidak bersemangat.

Begitu ibu guru keluar dari ruangan kelas, Riana nampak segera berdiri, tapi lekas ditahan oleh Dewi yang sedari tadi sudah menunggu momen ini. “Mau kemana Ri?” Tanya Dewi penasaran. Riana menjawab pelan, katanya ingin ke toilet. Dewi pun berkata akan ikut Riana ke toilet dan keduanya pun bersama-sama ke toilet.

“Riana, aku tahu kamu sedang ada pikiran berat, tapi kamu bisa kok menceritakannya padaku. Itupun kalau kamu bersedia, Dewi membuka pembicaraan, berharap riana mau mengutarakan isi hatinya.

“Iya, makasih ya, Wi,” ucap Riana sambil tersenyum. Senyum yang penuh rasa kecewa tapi berusaha untuk ditutupinya agar sahabat baiknya tidak mengetahui perasaannya.

Sepulang dari sekolah, riana masuk kamar dan seperti biasa, tidak ada orang lain di rumah selain dirinya sendiri. Riana memang tidak memiliki saudara. Ia hanya tinggal bersama ibunya karena ayahnya sudah tiada sejak ia usia 12 tahun. Sebenarnya Riana memiliki 2 saudara tiri dari ayah dan istrinya terdahulu, tapi kini keduanya sudah pergi meninggalkannya dan ibunya.

Riana membersihkan dirinya dan kemudian membuka kembali mata pelajaran yang sudah diajarkan gurunya di sekolah tadi. Riana memang merupakan anak yang cukup cerdas di sekolahnya, mungkin karena memang di rumah tidak ada yang bisa dilakukan kecuali belajar. Namun memasuki sekolah menengath atas ini riana banyak mengalami kemerosotan nilai, padahal saat masuk pertama kali nilainya lah yang paling tinggi di sekolah.

Pukul 04:00 sore, ibu Riana pulang dari kerja dan langsung memasakkan Riana makan malam. Saat siang hari, Riana bisa dibilang jarang makan karena ibunya tidak pernah sempat memasak untuk makan siang di pagi harinya dan hanya meminta tolong pada saudara yang tinggal di belakang rumah untuk membagi makanan pada Riana saat siang hari. Sayangnya tidak setiap hari saudaranya tersebut memiliki waktu untuk memberikan makan Riana, kalaupun dibagi, biasanya melebihi jam makan siang, sehingga Riana pun sering kali makan siang telat.

Riana pun tidak memilih untuk membeli makanan di luar karena uang sakunya harus dihemat untuk keperluan lainnya seperti mambeli buku dan jajan di sekolah. Untuk jajan pun Riana sering menahan diri demi bisa menyisihkan uang untuk membayar tunggakan buku ataupun iuran sekolah. Beruntung bagi Riana karena setiap berangkat dan pulang sekolah, ia diantar jemput oleh teman sekelasnya yang selalu dengan senang hati membantunya. Meskipun terkadang ibu Riana memberikan uang untuk diberikan kepada Tiara guna membeli bensin, tapi Tiara sering menolak karena sekalipun Riana tidak membonceng pun, Tiara tetap melewati depan rumahnya. Karena itulah Tiara selalu enggan diberikan uang bensin oleh ibu Riana.

Riana sesekali membantu tiara dalam tugas sekolah karena itulah satu-satunya yang bisa dilakukannya untuk membalas kebaikan Tiara padanya. Teman baik Riana tentu bukan hanya Tiara, karena Dewi yang juga teman sebangku Riana pun sangat baik terhadapnya. Dewi seolah mengerti penderitaan yang dialami Riana karena Dewi pun seorang anak yatim sejak kecil seperti riana. Namun Dewi masih beruntung karena saudaranya masih peduli padanya.

Yang membuat Riana sedih tentunya bukan soal kematian ayahnya, melainkan 2 saudaranya yang pergi meninggalkannya dan juga ibunya yang telah merawatnya semenjak kecil. Kekecewaan Riana semakin membuncah setiap kali dirinya melihat ibunya menangisi kakak tertuanya yang baru saja pergi meninggalkannya.

Suatu hari, kakak tiri Riana yang paling besar menghampiri ibunya sembari berpamitan, “bu, aku mau ke rumah saudara yang ada di Bogor buat membantu acara sunatan anaknya. Kemarin ibu tahu kan kalau aku disuruh untuk membantu tante?”

Ibu menatap kakak riana lekat-lekat seperti sudah tahu akan terjadi hal buruk. Namun akhirnya ibu yang tidak memiliki kuasa untuk melarang kepergian anak tirinya tersebut, karrna ia akan datang ke rumah saudaranya pun tidak bisa membendung keputusannya. Kakak tiri Riana pun pergi dari rumah saat Riana akan memasuki masa SMA. Hingga berbulan-bulan lamanya, kakak Riana tidak lagi ada kabar apalagi pulang kembali ke rumah dan tentu menjadi beban pikiran bagi ibu dan juga Riana.

Riana maupun ibunya tidak memiliki handphone sehingga tidak ada yang bisa digunakan untuk menghubunginya, sedangkan nomor saudara kakak tiri Riana pun tidak dimiliki oleh ibu Riana. Ibu Riana yang memutuskan untuk menyusul anak tirinya juga dibatalkan karena tidak memiliki uang yang cukup untuk perjalanan. Karena itulah hingga berbulan-bulan lamanya, ibu Riana dan juga Riana hanya bisa menunggu kabar dari kakak tiri Riana.

Permasalahan keluarga yang dialami oleh riana lah yang menjadi pemicu kemerosotan nilai pelajaran di sekolah. Ia begitu tidak menyangka mengapa kakak tertuanya tega meninggalkannya dan juga ibunya, sementara sebelum ayahnya meninggal, ayahnya sempat berpesan untuk tidak meninggalkan ibu dalam keadaan apapun. “Ibu harus dijaga dengan baik setelah ayah tiada, jangan sampai pergi meninggalkan ibu, apapun yang terjadi,” itulah pesan ayah Riana sebelum meninggal. Namun sepertinya kakak tertua Riana lupa akan wasiat ayahnya.

Kakak tiri kedua Riana juga tidak ada kabar apapun setelah satu minggu sepeninggal ayah Riana, kakaknya tersebut dibawa oleh neneknya di Bogor untuk alasan agar ibu Riana tidak menanggung beban yang berat. Ibu Riana yang sempat menolak keputusan tersebut, akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa karena nenek dari kakak tiri Riana membawa hubungan keluarga.

Hingga 5 tahun berlalu dan Riana bisa mandiri dengan bekerja memambantu ibunya menjahit, barulah saat itu kedua kakak tiri Riana muncul dengan kehidupan yang pastinya sudah lebih baik. Alih-alih Riana dan ibunya geram dan ingin membencinya seumur hidup kenyataannya mereka tidak bisa melakukannya. Sekalipun tidak terlontar kata maaf dari kedua kakak tiri Riana, tapi Ibu Riana yang pemaaf pun rela memberikan pengampunan kepada kedua anak tirinya tersebut. Riana yang sebenarnya masih tidak suka dengan cara kakak riana pergi begitu saja dari rumah, akhirnya juga tidak tega melihat kedua kaka tirinya yang sibuk bercerita betapa hidupnya pontang panting setelah tanpa ibu Riana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *