Hening

keluarga

Hening,  Tidak ada yang bisa aku dengarkan lagi saat ini padahal di sekelilingqu ada puluhan, tidak! Ada ratusan orang yang lalu lalang lengkap dengan segala kesibukan dan obrolan mereka, tapi aku sama sekali tidak mendengar apapun yang mereka katakan. Aku hanya bisa melihat senyum dan bibir mereka yang bergerak. Namun semua yang ada di sekitarku tidak terdengar sedikit pun di telingaku. Aku mulai menitikkan air mata dan tak terasa semakin membanjiri pipiku. Tak tertahankan, sangat tidak bisa ditahan dan akhirnya aku menangis sejadi-jadinya tapi entahlah, tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku menjerit tapi seolah tidak ada yang memperdulikanku. Apakah memang aku tidak mengeluarkan suara sedikitpun? Namun tiba-tiba semua gelap.

“Ana, ana…” kudengar seseorang memanggilku berulang kali, tapi aku sama sekali tidak melihat siapapun di sekitarku. Jelas bahwa suara itu bukan suara ibuku, tiara (sahabatku), atau ayahku. Memang suara itu adalah suara pria, tapi jelas bahwa suara itu bukanlah suara ayahku. Aku terus berusaha untuk mencari asal suara itu dan kulihat sosok jangkung yang berdiri membelakangiku tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang.

Aku mengerutkan kening, penasaran dengan sosok tersebut. aku yakin dia adalah pria karena tubuhnya yang jangkung dan berambut pendek, serta punggungnya yang lebar, menandakan bahwa sosok itu adalah pria. Ia mengenakan kaos berwarna biru dan aku rasa, ia adalah sosok yang beberapa waktu terakhir ini aku lihat secara terus menerus. Setiap kali aku menutup mata.

Aku hendak menyentuh bahunya, tapi seketika itu, aku tiba-tiba terbangun dari tidur atau pingsan, entahlah. Begitu aku membuka mata, kulihat di sekelilingku ada ibu dan ayah yang menatapku dengan wajah cemas. Ibu memegangi tanganku erat sambil berlinangan air mata.

“Ana,” panggil ayahku yang sedari tadi menatap wajahku lekat-lekat.

Ibu segera berdiri mengusap keningku dan belum sempat menanyai keadaanku, aku sudah bertanya lebih dulu, “aku, pingsan lagi ya, bu?”

Ibu mengangguk lemah. Memang belakangan ini aku sering sekali mengalami pingsan berulang kali bahkan di tempat umum seprti yang terjadi barusan. Barusan? Tidak, ibu bilang aku sudah pingsan 2 hari dan bahkan tidak kunjung bangun meskipun dilakukan berbagai cara.

Aku sendiri juga tidak memahami kondisi sekarang ini, kenapa belakangan aku mengalami kejadian aneh yang terus datang setiap kali aku pingsan. Aku juga selalu pingsan dalam waktu lama dan sering hingga berhari-hari. Ayahku dipanggil oleh dokter setelah aku diperiksa beberapa menit yang lalu. setelah ayah mendatangi dokter beberapa menit, ibu nampaknya mulai cemas dan penasaran dengan pembicaraan dokter bersama ayahku.

“Nak, ibu ke toilet dulu, ya?” pamit ibuku padaku.

Aku mengangguk, tapi aku tahu pasti bahwa ibuku tidak ke toilet melainkan menyusul ayah di ruang dokter. Aku turun ranjang saat ibuku sudah keluar dari kamar inapku. Perlahan, aku mencari ruangan dokter yang dimasuki oleh ayah dan ibuku. Saat aku akan melewati sebuah pintu, aku melihat dari kaca kecil yang ada di pintu bahwa ayah dan ibu sedang duduk berhadapan dengan dokter. Terlihat ketiganya sedang berbicara serius. Mungkin sedang membahas kondisiku. Namun, apakah seserius itu, hingga ibuku tertunduk lesu dan ayah mengernyitkan kening.

Aku membuka pintu perlahan, tanpa disadari oleh ketiga orang di dalam ruangan tersebut. tepat saat aku membuka pintu, ayah bertanya “pasti ada cara untuk mengobati kelainan yang diderita anak saya dok!” nada bicara ayah mulai meninggi, tapi kemudian kembali melemah sambil melanjutkan perkataannya, “apa itu tadi? Sindrom putri tidur?” ayah menatap ke meja dokter dengan tatapan kosong.

Aku terbelalak mendengar ucapan ayahku.

“apa dokter pikir ini cerita dongeng?” tampik ayahku tidak percaya dengan vonis dokter.

“saya juga perlu melakukan tindakan lebih lanjut untuk mengetahui apakah putrid bapak benar-benar mengalami kelainan tersebut. jika anda mengizinkan, kita bisa melakukan CT Scan untuk memastikannya”, ucap dokter mencoba memberikan solusi.

“Ayo kita lakukan, dok!” sambungku memecah keheningan antara mereka bertiga.

Ibu dan ayahku terperanjat, melihat kehadiranku dan menerka mungkin saja aku sudah mendengar semuanya.

Aku mendekat ke meja perlahan, mencoba kuat dengan kenyataan yang menimpaku. Air mata bergulir di pipiku. “kalau memang bisa memastikan kelainan yang saya derita, mari kita lakukan CT scan ataupun tindakan medis lainnya, saya siap dok” lanjutku berusaha untuk tidak membuat khawatir kedua orang tuaku.

CT Scan pun dilakukan untuk mengetahui gangguan yang membuat sindrom tidur menerpaku. Dan begitu hasilnya keluar, ternyata semuanya tidak ada gangguan karena otakku baik-baik saja dan tidak ada tumor apalagi kanker yang hidup di dalam tubuhku. Dokter pun heran dengan kondisiku, sama seeprti ayah, ibu dan juga aku.

Karena aku sering pingsan belakangan ini, ayah dan ibu memutuskan untuk memintaku keluar dari kampus dan rehat sementara. Di rumah, aku hanya menghabiskan waktu dengan membaca novel dan menonton drama korea. Tentu saja sering kali aku pingsan atau lebih tepatnya tidur panjang tanpa tahu kondisi di sekitarku.

Setiap tidur, seperti biasa, aku melihat sosok pria berkaos biru celana pendek berwarna putih. Namun beberapa waktu terakhir ini, aku melihatnya berpaling padaku sambil tersenyum. Melihatnya tersenyum begitu manis kepadaku, rasanya aku terhipnotis, betapa…tampannya dia. Siapa pria itu?

Kali ini, setiap kali aku terbangun, aku merasa mulai ingin tertidur kembali karena aku ingin bertemu dengannya. Dan begitu bertemu dengannya lagi, kini pria itu mulai mendekatiku dan tanpa banyak bicara, akupun diajaknya ke sebuah taman bunga. Hamparan bunga berwarna ungu terlihat begitu luas dan cantik. Ini seperti tempat…

Kepalaku tiba-tiba pusing, dan aku terjatuh di taman bunga itu. Namun begitu aku bangkit, aku tak lagi melihat bunga-bunga lavender tadi, melainkan aku sedang berada di tepi jalan. Dimana ini? aku melihat ke sekelilingku dan aneh, kenapa tiba-tiba aku berada di jalan raya, lalu dimana pria tadi?

Suara hantaman yang begitu keras sangat mengejutkan jantungku hingga akupun terperangah mencari pusat dari suara tersebut. aku mengernyitkan kening memastikan apa yang baru saja aku lihat. Ternyata sebuah dump truck menabrak mobil hingga ringsek. Tapi tunggu! Ada sepeda motor yang masuk di kolong dump truck tersebut dan sepertinya aku pernah melihat sepeda motor itu.

Tanpa perasaan ragu akupun berlari menuju sepeda motor tersebut. aku berteriak minta bantuan dan beberapa orang membantu mengeluarkan pria yang tersangkut di dalam kolong dump truck. Wajahnya dipenuhi dengan darah tapi aku masih bisa mengenalnya dengan baik. Dia adalah Ryan, kekasihku yang lama tidak ada kabar, bahkan keluarganya pun tidak tahu karena tidak ada yang tinggal bersamanya hingga 5 tahun belakangan ini.

Aku bergegas memegangi tubuh Ryan dalam pangkuanku. Tidak terasa bulir-bulir air mata terjatuh dalam pipiku semakin banyak hingga membasahi wajahku. Ryan menatapku sambil tersenym dan meraih tanganku. Sbelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia berkata lirih, “maaf meninggalkanmu dan harus memberi tahumu dengan cara ini.”

Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan hanya bisa menangisinya dalam keheningan pikiranku. Aku tiba-tiba terbangun dari mimpiku dan aku masih menangis, pipiku basah. Kini aku tahu siapa pria dalam mimpi panjangku, dia adalah Ryan yang sudah lama pergi dariku karena kecelakaan. Dialah yang berusaha untuk memberi tahu bahwa dirinya tidak sengaja meninggalkanku.

Maaf, maafkan aku yang selama ini menyalahkanmu karena tidak peduli padaku. Aku tidak pernah tahu bahwa kamu kesulitan selama ini. maafkan aku. Aku menangis sendiri di kamarku, mencoba untuk merelakan kepergiannya agar ia tenang di surga. Sindrom tidur panjangku ternyata bukan karena sebuah penyakit melainkan karena Ryan. Maafkan aku, Ryan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *